About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, November 10, 2012

Cara Memasang Widget Like Box FB Keren Di Blog

Hallo Sobat Blogger Sudah Lama gak blogging nih...kangen bangeeeet...(sumpe dech....) oh ya kali ini saya akan membuat tutorial Cara Memasang Widget Like Box FB Keren Di Blog Like Box Facebook ini saya dapatkan saat saya mencari di mesin Google dan akhirnya saya mendapatkannya lewat blogkompiajaib.blogspot.com Dan saya mencoba kode/scriptnya ternyata berhasil...juga dari dulu saya cari Like Box Facebook yang keren ternyata ada di blog kompiajaib.blogspot.com. 
Ok....Langsung Aja...!


Cara Memasang Widget Like Box FB Keren Di Blog

1. Login Ke Blogger 

2. Pilih Tata Letak

3. Klik Tambah Gadget/add gadget

4. Kemudian Pilih HTML/Javascript

5. Masukan Kode/Script Di Bawah Ini:



<div style="display:scroll;position:fixed;top:50px;left:400px;">
<script src="https://ajax.googleapis.com/ajax/libs/jquery/1.7.1/jquery.min.js"></script>
<script src="http://kompiajaib.googlecode.com/files/slidefbnew.js" type="text/javascript">
</script>
<style>
#kompiajaib_slidefb2012{
font-family: "Consolas", "Courier New", Courier, mono, serif;
border: 1px solid;
width: 355px;
margin: 10px 0px;
padding:5px 0px 0px 5px;
background-repeat: no-repeat;
position:relative;
color: #00529B;
background-color: #000000;
}
</style>
<div id="kompiajaib_slidefb2012">
<a class="close"  href="#close" style='position:absolute;right:0px;top:0px;margin-right:-1px;margin-top:-1px;'><img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-xjVGllNNS5Q/T66Pa1LuFZI/AAAAAAAADKs/8Nf9hrNZGpA/s1600/popover-close-button.gif" /></a>
<div style='width:99%;padding:8px 0px;background-color:#737373;font-family:arial;text-align:center;'><div style='color:#FFF;font-size:13px;font-weight:bold;'>Like us and get updates</div></div>
<iframe src="//www.facebook.com/plugins/likebox.php?href=http://www.facebook.com/OvjAcehFansClub?ref=hl &amp;width=350&amp;height=255&amp;colorscheme=dark&amp;show_faces=true&amp;border_color=%23FFFFFF&amp;stream=false&amp;header=false" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:350px; height:255px;" allowtransparency="false"></iframe><div style="border: 0px; padding: 5px; background-color: none; text-align: right; font-size:9px;">Mau Pasang Ini Juga Klik <a href="http://reizal83.blogspot.com/2012/11/cara-memasang-widget-like-box-fb-keren.html." target="_blank">Sini</a></div>
</div></div>

Perhatian:
1. Kode Yang Berwarna Biru adalah Tombol Close jika bosan dengan tombolnya bisa diganti dengan kode Tombol Close Yang diinginkan.
2. Kode Yang Berwarna Violet/Pink Silahkan Ganti Dengan Alamat Facebook Anda.
3. Tulisan Yang Berwarna Orange Adalah Tulisan Yang Tampil Di Atas Like Box Seperti Gambar Paling Atas Silahkan Ganti dengan tulisan yang diinginkan sesuai selera.
4. Kode Yang berwarna Kuning adalah Backround Like Box Silahkan Ganti Dengan Kode Warna Yang Diinginkan.

6. Klik Simpan Dan SELESAI...! 

Demikian Tutorial Yang saya buat dengan sepenuh hati saya semoga bermanfaat untuk sobat blogger semua...Salam Blogging..!

Monday, October 29, 2012

YAYASAN BEUREUNUEN INFORMATIKA INDONESIA (Bii)

Bii: YAYASAN BEUREUNUEN INFORMATIKA INDONESIA (Bii)

 tiada yang lebih berharga dari ilmu yang di dapat...BII memberikan apa yang anda harapkan...latar pendidikan komputer merupakan sebuah jalan menuju kesuksesan dalam literatur komputerisasi...
maju bersama BII...

Sunday, September 16, 2012

gambaran pengetahuan Ibu tentang aktivitas seksual selama kehamilan


BAB I 
PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang 
Hampir setiap pasangan selama sembilan bulan kehamilan akan
mengalami beberapa perubahan dalam hubungan seksual mereka, terlepas
dari apakah perubahan itu berupa sama sekali tidak adanya hubungan seksual
atau menjadi sedikit tidak nyaman atau malah lebih baik dari biasanya.
Pada salah satu penelitian 54% dari wanita melaporkan adanya
penurunan libido pada trimester pertama. Pada satu kelompok wanita, hanya
21% yang tidak mengalami atau sedikit mengalami kenikmatan seks sebelum
kehamilan. Presentasi wanita yang tidak mengalami kenikmatan seksual ini
meningkat menjadi 41% pada minggu kedua kehamilan, dan 59% memasuki
bulan kesembilan. Tetapi cukup menggembirakan bahwa penelitian juga
menemukan bahwa lebih dari 4 dari 10 wanita masih menikmati seks pada
saat ini dan lebih dari setengahnya dapat mengalaminya tanpa masalah
Walaupun ada perbedaan antara satu pasangan dengan pasangan
lainnya. Pola naik turunnya minat seksual pada umumnya sama selama tiga
trimester kehamilan. Bagaimanapun keletihan, mual, muntah dan nyeri tekan
pada payudara membuat si calon ibu bukan pasangan yang baik di tempat
tidur, namun pada beberapa wanita yang mengalami trimester pertama dengan
nyaman, gairah seksualnya dapat bertahan sama seperti sebelumnya atau
 meningkat. Meskipun tidak selalu, minat seksual ini seringkali meningkat
pada trimester kedua, ketika kedua pasangan secara fisik dan psikologis sudah
lebih terbiasa dengan adanya kehamilan dan biasanya menurun kembali pada
trimester ketiga atau mendekati persalinan, bahkan lebih  drastis daripada
yang terjadi pada trimester pertama, tentu karena beberapa alasan yang begitu
jelas: pertama, membesarnya perut, nyeri dan rasa tidak nyaman pada
kehamilan tua: dan ketiga, pada akhir trimester ketiga akan sulit untuk
memusatkan perhatian pada hal lain karena kecemasan dan ketegangan
menantikan saat yang ditunggu-tunggu
Satu masalah yang menganggu beberapa wanita adalah karena mereka
tidak dapat berbaring terlentang pada saat hamil tua. Jika mereka berbaring
dalam posisi ini akan membuat, tekanan darah akan turun dengan drastis.
Keadaan seperti ini akan membuat mereka seperti pingsan, berkeringat dan
pucat sekali. Kondisi semacam ini dikenal dengan nama “Sindroma hipotensif”
dan disebabkan oleh penekanan uterus yang membesar (karena hamil) pada
pembuluh darah besar (vena cava inferior), penekanan ini meyebabkan
terhambatnya aliran darah dari bagian bawah ke jantung, jika berbalik ke
posisi miring, gejala tersebut akan hilang dan wanita tersebut merasa lebih
baik (Close, 2008)
Dari kenyataan diatas, sangat dianjurkan pasangat mencoba berbagai
posisi pada kehamilan muda (apabila mereka belum pernah mencobanya
selama itu). Dengan usaha tersebut diharapkan pada usia kehamilan tua,
keduanya dapat menyesuaikan diri dengan lebih mudah. Mereka dapat
misionari (yaitu, berhadapan dengan tubuh suami di atas si istri) (Close,
2008). 
Berdasarkan data-data diatas penulis akan mengadakan penelitian
dengan judul “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Aktivitas Seksual Selama
Kehamilan”

1.2 Perumusan Masalah 
Dari data diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah, bagaimana
gambaran pengetahuan Ibu tentang aktivitas seksual selama kehamilan ?

1.3 Tujuan Penelitian 
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
pengetahuan Ibu tentang aktivitas seksual selama kehamilan. 
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang aktivitas
seksual selama kehamilan. 

1.4 Manfaat Penelitian  
1. Bagi Peneliti
Untuk melakukan penelitian guna menambah pengetahuan tentang
gambaran pengetahuan ibu mengenai aktivitas seksual selama kehamilan. 

2. Bagi Profesi
Sebagai tambahan pengetahuan yang dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusna guna untuk membantu
memecahkan masalah klien. 
3. Bagi Institusi 
Sebagai tambahan pengetahuan bagi pendidikan supaya dapat
mengembangkan penelitian pada penelitian selanjutnya. 
4. Bagi Klien 
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan klien tentang
gambaran seksual selama kehamilan.

2.1 Konsep Pengetahuan 
2.1.1 Pengertian 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 

Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi
setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni : indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoadmojo, 2003 : 127 – 128). 

2.1.2 Tingkatan 
Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai
6 tingkat yakni : 
2.1.2.1 Tahu (know) 
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang
telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan
tingkat ini adalah mengingat kembali (recail) terhadap suatu
yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima, karenanya “tahu” adalah
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja
untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari
 6
antara lain : menyebutkan, menguraikan, mendiskusikan,
menyatakan, dan sebagainya. 
2.1.2.2 Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan
menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan
dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang
yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari. 
2.1.2.3 Aplikasi (Application) 
 Aplikasi diartikan sebagai kemampuna untuk
menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau
kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan,
aplikasi atau penggunaan hukum, teks atau situasi yang lain.
Misalnya dalam konteks atau situasi yang lain, misalnya dalam
menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan
hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip siklus pemecahan
masalah (problem solving cycle) didalam pemecahan masalah
keseharian dari kasus yang diberikan. 
2.1.2.4 Analisis (Analysis) 
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi
masih didalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih
 7
ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat
dilihat dari penggunaan kata-kata kerja : dapat menggambarkan
(membuat bagan), membedakan memisahkan, mengelompokkan
dan sebagainya. 
2.1.2.5 Sintesis (Synthesis) 
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu
suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada, misalnya : dapat menyusun,
dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan
dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan
yang telah ada. 
2.1.2.6 Evaluasi (Evaluation) 
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi
obyek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang
ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang
telah ada misalnya : dapat membandingkan anak-anak yang
cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi. 
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan
wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi
yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden
 8
kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur
dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas.

2.1.3 Cara memperoleh Pengetahuan 
Dari berbagai cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan,
dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu : 
2.1.3.1 Cara tradisional atau non ilmiah meliputi 
1. Cara coba salah (trial and error)
Cara ini dipakai seseorang untuk memecahkan
masalah dengan coba-coba saja apabila tidak berhasil
mencoba kemungkinan yang lain, demikian seterusnya
sampai masalah dapat dipecahkan.
2. Cara kekuasaan Otoritas 
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kebiasaan-
kebiasaan yang dilakukan orang tanpa melalui penalaran
apakah yang dilakukan itu baik atau tidak. Kebiasaan ini
biasanya diwariskan dari generasi ke generasi. Kebiasaan-
kebiasaan tersebut seolah-olah diterima dari sumbernya
sebagai kebenaran yang mutlak. Sumber pengetahuan
tersebut diperoleh berdasarkan otoritas atau kekuasaan
baik tradisi otoritas pemerintah, pemimpin agama maupun
ahli ilmu pengetahuan. 


 9
3. Berdasarkan pengalaman pribadi 
Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya
memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali
dari pengalaman dengan cara mengulang kembali dari
pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan masalah di
masa lalu. Apabila gagal seseorang tidak akan mengulang
cara tersebut dan berusha mencari cara lain sehingga
masalah terpecahkan. 
4. Melalui jalan pikiran  
Sejalan dengan perkembangan kebudayaan, cara
berpikir manusiapun ikut berkembang. Manusia mulai
menggunakan jalan pikirannya untuk memperoleh
kebenaran pengetahuan baik melalui induksi maupun
deduksi. Induksi adalah proses penarikan kesimpulan
yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus ke
pernyataan yang bersifat umum. Sedangkan deduksi
adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan
umum ke khusus. 
2.1.3.2 Cara modern atau cara mudah 
Cara modern dalam memperoleh pengetahuan dewasa ini
lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode
penelitian ilmiah atau metodologi penelitian. 

 10
2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan 
2.1.4.1 Pendidikan 
Menurut Soewarno (1992), Pendidikan berarti
bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita
tertentu (Nursalam, 2001 : 132). Pendidikan merupakan
penuntun manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupannya
yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi sehingga
dapat meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan menurut
Kuncoroningrat (1997) makin tinggi tingkat pengetahuan
seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin
banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan
yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang
terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Nursalam, 2001 :
132)
2.1.4.2 Usia 
Menurut Hurlock (1998) usia adalah umur individu
yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang
tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Dari
segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewas akan
lebih dipercaya sebagai akibat pengalaman dan kematangan
jiwanya (Nursalam, 2001 : 134)
 11
2.1.4.3 Pengalaman 
Semakin banyak pengalamanm makin banyak pula
pengetahuan karena pengalaman adalah guru yang baik,
demikian bunyi pepatah yang mengandung maksud bahwa
pengalaman merupakan salah satu cara memperoleh
pengetahuan. 
2.1.4.4 Lingkungan 
Semakin banyak informasi yang diterima seseorang
baik melalui media massa atau media elektronik atau melalui
wawancara dengan Narasumber maka semakin tinggi tingkat
pengetahuan. 

2.1.5 Dampak Pengetahuan 
2.1.5.1 Terhadap Sikap 
Sikap merupakan suatu reaksi atau respon yang masih
tertutup dari seseorang terhadap suatu Stimulus atau Obyek.
Sikap terdiri dari beberapa tingkatan. 
1. Menerima (Receiving) 
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan
memperhatikan Stimulus yang diberikan (obyek). 
2. Merespon (Responding)
Usaha untuk memberikan jawaban apabila ditanya,
mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. 

 12
3. Menghargai (Valueing)
Menghargai orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan suatu masalah 
4. Bertanggung jawab (Responsibility)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah terpilih,
dengan segala resikonya. 
2.1.5.2 Terhadap praktek atau tindakan
Praktek merupakan penilaian atau pendapat terhadap
apa yang diketahui dan proses selanjutnya diharapkan
seseorang akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang
diketahui atau disikapinya (dinilai baik) 
Praktek terdiri dari beberapa tingkatan :
1. Persepsi (perseption) 
Mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan
dengan tindakan yang diambil.
2. Respon terpimpin (Guideon Response)
Dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan urutan yang
benar dan sesuai dengan contoh. 
3. Mekanisme (Mechanism)
Melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau
sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan. 
4. Adopsi
Suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang
dengan baik (sudah dimodifikasi tanpa mengurangi
kebenaran tindakan tersebut) 
 13
2.2 Konsep Kehamilan 


2.2.1 Definisi 
Kehamilan adalah suatu keadaan dimana seorang wanita
mengandung anak didalam rahimnya (Depdikbud, 2001)
1998)
Gravida adalah wanita yang sedang hamil (Ida Bagus Manuaba,

2.2.2 Tanda-tanda pasti (tanda positif) 
• Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasa atau diraba, juga
bagian-bagian janin
• Gerakan jantung janin : 
1. Mendengar dengan Steteskop, monoral laennec
2. Dicatat dan didengar dengan alat Doppler
3. Dicatat dengan Feto – Elektro Kardiogram
4. Dilihat tulang-tulang janin dalam Foto Rontgen

2.2.3 Lama Kehamilan 
Lama kehamilan yaitu 280 atau 40 pekan (minggu) atau 10
bulan (Unar months). Kehamilan dibagi atas 3 triwulan (trimester)
a. Kehamilan triwulan I antara 0 – 12 minggu 
b. Kehamilan triwulan II antara 12 – 18 minggu 
c. Kehamilan triwulan II antara 28 – 40 minggu 
 14
2.3 Konsep Aktivitas Seksual 
2.3.1 Definisi
Segala aktivitas yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan
jenis maupun sesama jenis.

2.3.2 Alasan / penyebab ibu hamil tidak melakukan aktivitas seksual 
2.3.2.1 Perubahan bentuk fisik 
Bercinta pada waktu hamil dapat menjadi kaku dan
tidak nyaman karena terhalang oleh perut yang membesar. Dan
ketika kehamilan telah lanjut, perut yang makin membesar
membuat beberapa pasangan merasa lebih baik menyerah saja.
Bentuk tubuh wanita yang berubah juga kadang-kadang
membuat salah satu pasangan merasa menjadi tidak bergairah
(Sujiyatini, 2009) 
2.3.2.2 Takut menyakiti janin atau menyebabkan keguguran
Pada kehamilan yang normal, hubungan seksual tidak
akan menyebabkan kedual hal tersebut. Janin terlindung
bantalan kantong amnion dan rahim, rahim ini terlindung dari
dunia luar oleh sumbatan lendir padat gerbang (Sujiyatini, 2009)
2.3.2.3 Kemarahan yang tidak disadari  
Dari calon ayah terhadap calon ibu, karena ia cemburu
bahwa isterinya sekarang menjadi pusat perhatian. Atau dari
 15
calon ibu terhadap calon ayah karena ia merasa bahwa hanya
dirinya sendirilah yang harus menanggung semua penderitaan,
perasaan-perasaan semacam itu perlu diutarakan dan tidak
mengganggu hubungan seksual di tempat tidur. (Sujiyatini, 2009)

2.3.3 Hubungan seksual yang harus dihindari
Pantangan hubungan seksual yang mungkin dianjurkan untuk
beberapa keadaan berikut : 
• Setiap kali pendarahan yang tidak diketahui sebabnya.
• Selama trimester pertama, bila wanita yang mempunyai riwayat
keguguran atau ancaman keguguran atau menunjukkan tanda-
tanda ancaman keguguran. 
• Selama 8 sampai 12 minggu terakhir, bila wanita mempunyai
riwayat keguguran atau tanda-tanda dari kelahiran dini. 
• Bila membran amnion (selaput ketuban) telah pecah. 
• Bila terjadi placenta previa (plasenta terletak didekat atau diatas
leher rahim sehingga dapat keluar terlalu dini pada hubungan
seksual, menyebabkan pendarahan dan mengancam ibu dan
janinnya)
• Selama trimester terakhir pada kandungan kembar. 
(Sujiyatini, 2009) 


 16
Syarat – syarat melakukan hubungan seksual : 
1. Kehamilan berjalan normal dan tidak ada kontra indikasi yang
membahayakan, seperti pendarahan vagina atau “spotting (bercak
darah)” dan kejang perut yang abnormal. 
2. Pasangan wanita belum pernah mengalami keguguran atau
kelahiran premature. 
3. Kedua menginginkannya. 
(Close, 2008) 

2.3.4 Solusi untuk mengatasi masalah seksual pada masa kehamilan 

Apabila telah disepakati untuk tetap melakukan hubungan
seksual maka : 
“Masturbasi harus dihindari, hal ini disebabkan oleh pendapat yang
mengatakan bahwa orgasme yang diakibatkan oleh masturbasi lebih
kuat jika dibandingkan dengan yang diakibatkan oleh hubungan
seksual. Dan sehubungan dengan keadaan tersebut, maka kontraksi
uterus juga menjadi lebih kuat. 
 17
2.4 Kerangka Konseptual 
















Ket : 
 = Diteliti
 = Tidak diteliti

Kondisi emosi
yang tidak stabil
Menurunnya
gairah seksual 
Ibu Hamil 
Gambar 2.4 Kerangka Konseptual Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang
Aktifitas Seksual Selama Kehamilan
Hilangnya rasa
percaya diri 
Perubahan
aktifitas seksual
Baik  = 76% – 100%
Cukup = 56% – 75%
Kurang baik  = 40% – 55%
Tidak baik  = < 40%
Rasa cemas yang
berlebihan

 18
3.1 Desain Penelitian 
BAB III
METODE PENELITIAN 

Desain penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam penelitian
yang memungkinkan pemaksimalan control beberapa faktor yang bisa
mempengaruhi akurasi suatu hasil (Nursalam, 2003). Tipe desain penelitian
yang digunakan adalah deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan
dengan tujuan utama dengan membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu
keadaan secara obyektif. (Nursalam, 2001)

3.2 Kerangka Kerja 
Kerangka kerja merupakan bagian kerja terhadap rancangan kegiatan
penelitian yang akan dilakukan meliputi siapa yang akan diteliti (subyek
penelitian), variabel yang akan diteliti dan variabel yang mempengaruhi
dalam penelitian (Alimul, 2003) 

 19
Penelitian masalah
Gambaran pengetahuan ibu tentang aktivitas seksual selama kehamilan 



Sampel
Ibu hamil yang sesuai dengan kriteria inklusi di Puskesmas Mrican



Teknik sampling
Consecutive Sampling 



Pengumpulan data
Ibu hamil yang bersedia menjadi responden diberi kuesioner untuk diisi ibu
dan setelah selesai diserahkan kembali pada peneliti



Analisa data
Setelah data terkumpul kemudian ditabulasikan dikelompokkan sesuai dengan
sub variabel yang diteliti



Pengetahuan ibu tentang aktivitas seksual selama kehamilan
di Puskesmas Mrian 




1. Baik  = 76% – 100%
2. Cukup = 56% – 75%
3. Kurang baik  = 40% – 55%
4. Tidak baik  = < 40%

Gambar 3.2 Kerangka Kerja Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Aktifitas
Seksual Selama Kehamilan 


 20
3.3 Identifikasi Variabel
3.3.1 Variabel Penelitian 
Dalam hal ini variabel penelitiannya adalah pengetahuan ibu
tentang aktivitas seksual ibu selama kehamilan. Dalam penelitian ini,
peneliti hanya meneliti tingkat pengetahuan “tahu”.

3.4 Definisi Operasional 
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang
diamati dari sesuatu yang didefinisikan (Nursalam, 2001 : 44)
Variabel
Definisi
Pengetahuan
ibu tentang
aktivitas
seksual ibu
selama
kehamilan 

Definisi Operasional 
Variabel 
Operasional
Parameter Alat Ukur Skala Scoring
Merupakan
hasil “tahu”
dari segala
sesuatu
yang
didapat oleh
ibu hamil
baik secara
formal atau
informal 
Pengetahuan
baik, cukup,
kurang baik, tidak
baik, sehubungan
dengan
pengetahuan ibu
tentang
menurunnnya
gairah seksual ibu
selama kehamilan
melalui pendi
dikan, media
massa atau
elektronik,
penyuluhan atau
orang lain tentang
aktivitas seksual
selama kehamilan

Kuesioner Ordinal Menggunakan pertanyaan
dengan jawaban tertutup.
Jawaban
- Jawaban ya = 1
- Jawaban tidak = 0
Yang hasilnya
- Baik = 76%-100%
- Cukup = 56%-75%
- Kurang baik = 40%-56%
- Tidak baik =<40%
 21
3.5 Populasi, Sampel dan Sampling 
1. Populasi 
Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut
masalah yang diteliti (Nursalam, 2001 : 64). Populasi dalam penelitian ini
adalah semua ibu hamil di Puskesmas Mrican yang memenuhi kriteria
yang ditetapkan. 
Dalam menentukan besarnya populasi dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
 :n
)N(d1
N
+

Keterangan:
2
n : Besar sampel
N : Perkiraan besar populasi
d  : Tingkat ketepataan yang diinginkan (d = 0,05)
(Notoatmodjo, Metodologi Penelitian Kesehatan 1993)

2. Sampel 
Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diteliti atau
sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (H.A. Aziz,
2003). Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang berkunjung ke
Puskesmas Mrican. Dalam penelitian ini peneliti mengambil sample
dengan kriteria sebagai berikut : 
1) Ibu hamil baik primi atau multigravida
2) Pendidikan SD sampai perguruan tinggi.
 22
3) Ibu hamil yang bersedia sebagai responden
4) Mampu baca dan tulis

3. Sampling 
Sampling artinya cara / metode pengambilan sample (Nursalam,
2001 : 65 + 67) 
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik purposive
sampling, yaitu teknik penetapan sampel diantara populasi sesuai dengan
yang dikehendaki peneliti, sehingga sampel tersebut dapat mewakili
karakteristik populasi sebelumnya (Nursalam, 2003). 

3.6 Metode Pengumpulan Data
1. Instrumen 
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh
peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan
hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis
sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2002). 
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah Quesioner
yaitu sejumlah pertanyaan tertulis dalam arti laporan tentang pribadinya
atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2002) 
2. Lokasi dan waktu penelitian 
Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Mrican Kediri. 


 23
3. Prosedur 
Prosedur penelitian ini adalah mengurus perijinan penelitian pada
Kepala Puskesmas Mrican Kediri, untuk sample penelitian memberikan
lembar persetujuan kepada responden. Setelah itu peneliti melakukan
pengumpulan data dengan menggunakan quesioner yang berisi tentang
aktivitas seksual ibu selama kehamilan di Puskesmas Mrican. 

3.7 Metode Analisa Data 
Analisa data adalah kegiatan dalam peneliti dengan melakukan
analisis data yang meliputi persiapan, tabulasi dan aplikasi data (H.A. Azis
Alimul, 2003)
Setelah semua data terkumpul diperiksa kelengkapannya, kemudian
peneliti melakukan analisa data dengan teknik deskriptif kualitatif dengan
prosentase data dari kuesioner yang telah diisi dan diberi skor dengan
menggunakan skala penelitian yaitu jawaban ya = 1, jawaban tidak = 0. Hasil
dari jawaban responden dijumlahkan kemudian dibandingkan, kemudian
X
 N = 
diprosentasekan dengan menggunakan rumus
100% x
Y
Keterangan : 
N  = nilai yang diperoleh 
X = nilai yang didapat dari responden 
Y = skor tinggi maksimal (17) 


 24
Kemudian dianalisa menjadi pengetahuan :
Baik  = 76% – 100%
Cukup = 56% – 75%
Kurang baik = 40% – 55%
Tidak baik  = < 40%
(Arikunto, 1998) 

3.8 Keterbatasan 
Keterbatasan merupakan bagian riset keperawatan yang menjelaskan
keterbatasan dalam penulisan riset (Alimul, 2003). Dalam penelitian ini
keterbatasan yang dihadapi oleh peneliti adalah : 
1. Instrumen 
Pengumpulan data searah quesioner memungkinkan responden menjawab
dengan tidak jujur atau tidak mengerti dengan pertanyaan yang dimaksud
sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda sehingga hasilnya kurang
mewakili secara kualitas. 
2. Penelitian ini merupakan pengalaman pertama bagi peneliti sehingga
masih banyak kekurangan oleh bahannya sangat diperlukan kritik dan
saran untuk perbaikan di masa mendatang. 
3. Kuesioner belum memenuhi syarat bagi yang tepat karena tidak 
dilakukan uji validitas.
 25
3.9 Etika Penelitian 
Dalam melakukan penelitian, peneliti menganjurkan izin kepada kepala
Puskesmas Mrican dan mengadakan pendekatan kepada ibu-ibu yang datang
ke Puskesmas, setelah mendapatkan persetujuan barulah peneliti melakukan
penelitian dengan membebankan masalah etik dan meliputi : 
1) Informan consent 
Lembar persetujuan diberikan kepada responden kemudian peneliti
menjelaskan maksud dan tujuan penelitian jika responden bersedia diteliti
maka penelitian tidak diteruskan. 
2) Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak akan mencantumkan
nama responden pada lembar kuesioner dan lembar tersebut hanya diberi
nomor tertentu. 
3) Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin, hanya kelompok data tertentu
saja yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian (Alimul, 2003).





BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan hasil penelitian sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan dari hasil pengumpulan data. Responden dalam penelitian ini
sebanyak 19 orang. Pendeskripsian penelitian dimulai dari dari data yaitu gambaran
lokasi penelitian dan karakteristik responden meliputi umur, pendidikan dan
pekerjaan, selanjutnya data khusus dari hasil penelitian yang dianalisa sesuai variabel
yang diteliti.

4.1  Hasil Penelitian
4.1.1  Data Umum
4.1.1.1  Gambaran Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas Mrican Kediri yang mencakup
Kelurahan Mrican, Gayam, Ngampel dan Dermo.








25

4.1.1.2  Karakteristik Responden
1) Berdasarkan Umur

Tabel 4.1  Distribusi data responden berdasarkan umur di Puskesmas Mrican
Kediri Agustus 2006.
Umur Jumlah Prosentase
17 – 21 tahun 1 5,3 %
22 – 27 tahun 6 31,6 %
28 – 33 tahun 9 47,4 %
34 – 39 tahun 3 15,8 %
Total 19 100 %

Dari tabel 4.1 diatas mayoritas responden berumur antara 28-33 tahun
sebanyak 47,4 % (9 responden).
2) Berdasarkan Pendidikan
Tabel 4.2 Distribusi data responden berdasarkan tingkat pendidikan di Puskesmas
Mrican Kediri Agustus 2006.
Pendidikan Jumlah Prosentase
SD 7 36,8 %
SMP 5 26,3 %
SMA 6 31,6 %
PT 1 5,3 %
Total 19 100 %
Dari tabel 4.2 berdasarkan tingkat pendidikan mayoritas responden
berpendidikan SD yaitu sebanyak 36,8 % (7 responden).

26

3) Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 4.3 Distribusi data responden berdasarkan pekerjaan di Puskesmas Mrican
Kediri Agustus 2006.

Pekerjaan Jumlah Prosentase
IRT 13 68,4 %
Swasta 5 26,3 %
PNS 1 5,3
Total 19 100 %
Dari diagram 4.3 berdasarkan pekerjaan mayoritas responden bekerja
sebagai ibu rumah tangga sebanyak 68,4% (13 responden)
4.1.2 Data Khusus
Tabel 4.4 Distribusi data responden berdasarkan pengetahuan ibu di Puskesmas
Mrican Kediri Agustus 2006.
Pengetahuan Ibu Jumlah Prosentase
Tidak baik  3 15,8 %
Kurang 8 42,1 %
Cukup 6 31,6 %
Baik 2 10,5 %
Total 19 100 %
Dari tabel 4.4 didapatkan distribusi responden berdasarkan pengetahuan
ibu  mayoritas kurang dengan prosentase 42,1 % (8 responden).



27

Tabel 4.5  Tabulasi silang umur dengan pengetahuan ibu di Puskesmas Mrican
Kediri Agustus 2006.

Pengetahuan Ibu
Umur
Tidak baik
 Kurang Cukup Baik
Total
17 – 21 tahun 0 (0%) 1  (5,3%) 0  (0%) 0 (0 %) 1  (5,3%)
22 – 27 tahun 1 (5,3%) 3 (15,8%) 0 (0%) 2 (10,5%) 6 (31,6%)
28 – 33 tahun 2 (10,5%) 3 (15,8%) 4 (21,1%) 0 (0%) 9 (47,4%)
34 – 39 tahun 0 (0%) 1 (5,3%) 2 (10,5%)  0 (0%) 3 (15,8%) 
Total  3 8 (42,1%) 6 (31,6%)  2 (10,5%) 19 (100 %)

Berdasarkan tabel 4.5 hasil tabulasi silang antara umur dengan pengetahuan
ibu menunjukkan yang tidak baik 1 responden (5,3%) umurnya 22-27 tahun dan 2
responden (10,5%) umurnya 28-33 tahun, sedang untuk yang kurang 1 responden
(5,3%) umurnya 17-21 tahun dan 34-39 tahun dan 3 responden (15,8%) umurnya 2227

tahun dan 28-33 tahun, dan sedangkan untuk pengetahuan ibu yang cukup 2
responden (10,5%) umurnya 34-39 tahun dan 4 responden (21,1%) umurnya 28-33
tahun,. Dan pengetahuan ibu yang baik 2 responden (10,5%) umurnya 22-27 tahun. 










28

Tabel 4.6  Tabulasi silang pendidikan dengan pengetahuan ibu di Puskesmas Mrican
Kediri Agustus 2006.

Pengetahuan Ibu
Pendidikan
Tidak baik
 Kurang Cukup Baik
Total
SD 2 (10,5%) 2  (10,5%) 3  (15,8%) 0 (0 %) 7  (36,8%)
SMP 1 (5,3%) 3 (15,8%) 1 (5,3%) 0 (0 %) 5 (26,3%)
SMA 0 (0%) 3 (15,8%) 1 (5,3%) 2 (10,5%) 6 (31,6%)
PT 0 (0%) 0 (0%) 1 (5,3%)  0 (0%) 1 (5,3%)
Total  3 8 (42,1%) 6 (31,6%)  2 (10,5%) 19 (100 %)

Berdasarkan hasil tabel 4.6 tabulasi silang antara pendidikan dengan
pengetahuan ibu menunjukkan yang tidak baik 2 responden (10,5%) berpendidikan
SD dan 1 responden (5,3%) berpendidikan SMP, untuk pengetahuan ibu yang kurang
2 responden (10,5%) berpendidikan SD dan 3 responden (15,8%) berpendidikan SMP
dan SMA, sedang pengetahuan ibu yang cukup 3 responden (15,8%) berpendidikan
SD dan 1 responden (5,3%) masing-masing berpendidikan SMP, SMA, dan PT. Dan
sedangkan pengetahuan ibu yang baik 2 responden (10,5%) berpendidikan SMA.

29

Tabel 4.7  Tabulasi silang pekerjaan dengan pengetahuan ibu di Puskesmas Mrican
Kediri Agustus 2006.

Pengetahuan Ibu
Pekerjaan
Tidak baik
 Kurang Cukup Baik
Total
IRT 2 (10,5%) 7 (36,8%) 3  (15,8%) 1 (5,3%) 13  (68,4%)
Swasta 1 (5,3%) 1 (5,3%) 2 (10,5%) 1 (5,3%) 5 (26,3%)
PNS 0 (0%) 0 (0%) 1 (5,3%) 0 (0 %) 1 (5,3%)
Total  3 8 (42,1%) 6 (31,6%)  2 (10,5%) 19 (100 %)

Berdasarkan tabel 4.7 hasil tabulasi silang antara pekerjan dengan
pengetahuan ibu menunjukkan pengetahuan ibu yang tidak baik 2 responden (10,5%)
bekerja sebagai ibu rumah tangga dan 1 responden (5,3%) bekerja swasta, untuk
pengetahuan ibu yang kurang 1 responden (5,3%) bekerja swasta dan 7 responden
(36,8%) bekerja sebagai ibu rumah tangga, sedangkan pengetahuan ibu yang cukup 3
responden (15,8%) bekerja sebagai ibu rumah tangga, 2 responden (10,5 %) bekerja
Swasta, dan 1 responden (5,3%) bekerja sebagai PNS. Dan pengetahuan ibu yang
baik masing-masing 1 responden (5,3 %) bekerja ibu rumah tangga dan swasta.









30

4.2  Pembahasan 

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Mrican Kediri 2006
diketahui bahwa pengetahuan ibu tentang aktivitas seksual selama kehamilan bisa
dibilang kurang untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai  berikut :
4.2.1 Pengetahuan ibu 
Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Mrican Kediri Agustus 2006,
mayoritas dari 19 responden pengetahuan ibu tentang aktivitas seksual selama
kehamilan kurang, hal ini ditunjukkan dari tabel 4.4 sebanyak 42,1% (8 responden). 
Menurut Lose Sylvia  (1998 : 1), beberapa penelitian menentukan bahwa
hubungan seksual itu sendiri tidak membahayakan kehamilan yang normal dan tidak
menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur. Jika hubungan seksual dapat
menghentikan kehamilan dengan begitu mudahnya, maka ini merupakan cara
sederhana untuk menghindari bayi yang tidak diinginkan.
Oleh karena itu asumsi peneliti tentang responden mempunyai pengetahuan
kurang tentang hubungan seksual selama kehamilan ini terjadi karena mereka tidak
begitu memperdulikan tentang adanya gangguan kehamilan pada waktu mereka
melakukan seksualitas.


31

4.2.2 Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Aktivitas Seksual selama Kehamilan Pada

Umur
Dari hasil penelitian di Puskesmas Mrican Kediri Agustus 2006, tabel 4.5
menunjukkan dari 19 responden pengetahuan ibu tentang aktivitas  seksual selama
kehamilan kurang berumur antara 22-33 tahun sebanyak 31,6 % (6 responden). 
Menurut Hurlock (1998) usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat
dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan
kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Dari segi
kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya sebagai
akibat pengalaman dan kematangan jiwanya (Nursalam, 2001 : 134)
Gambaran ini dimungkinkan semakin bertambahnya umur mereka semakin
menambah pengalaman bahwa hubungan seksual selama kehamilan tidak
mempengaruhi kehamilan itu sendiri.
4.2.3 Gambaran Pengetahuan Ibu Pada Tingkat Pendidikan
Dari hasil penelitian di Puskesmas Mrican Kediri Agustus 2006, tabel 4.6 dari
19 responden pengetahuan ibu tentang aktivitas  seksual selama kehamilan kurang
sebanyak 31,6% (6 responden) berpendidikan SMP dan SMA. 
Menurut Soewarno (1992), Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh
seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu
(Nursalam, 2001 : 132). Pendidikan merupakan penuntun manusia untuk berbuat dan
mengisi kehidupannya yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi sehingga
32

dapat meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan menurut Kuncoroningrat (1997)
makin tinggi tingkat pengetahuan seseorang, makin mudah menerima informasi
sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang
kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang
baru diperkenalkan (Nursalam, 2001 : 132)

Hal ini terjadi karena dimungkinkan para responden tidak terlalu memikirkan
bahwa semakin tinggi pendidikan harus berpengetahuan luas khususnya  tentang
hubungan seksual selama kehamilan.
4.2.4. Gambaran Pengetahuan Ibu Pada Pekerjaan 
Dari hasil penelitian di Puskesmas Mrican Kediri Agustus 2006, tabel 4.6 dari
19 responden pengetahuan ibu tentang aktivitas  seksual selama kehamilan kurang
sebanyak 36,8% (7 responden) bekerja sebagai ibu rumah tangga. 
Semakin banyak pengalaman makin banyak pula pengetahuan karena
pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah yang mengandung
maksud bahwa pengalaman merupakan salah satu cara memperoleh pengetahuan. Hal
ini menujukkan para ibu yang mengalami kehamilan itu sendiri justru tidak memiliki
pengetahuan yang baik tentang hubungan seksual selama kehamilan. Mereka lebih
mementingkan pengalaman mereka sendiri semasa kehamilan dulu. Bagi para
responden yang baru mengalami kehamilan pertama mereka lebih percaya responden
yang sudah mengalami kehamilan lebih dari satu kali.
33



BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini akan membahas kesimpulan dari hasil penelitian dan saran-saran bagi
pihak-pihak yang terkait.
5.1 Kesimpulan 
 Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan :
5.1.1 Pengetahuan ibu tentang hubungan seksual selama kehamilan
Sebagian besar responden di Puskesmas Mrican Kediri kurang
mempunyai pengetahuan tentang hubungan seksual selama kehamilan sebanyak
42,1% (8 responden). 
5.1.2 Pengetahuan ibu tentang hubungan seksual selama kehamilan pada status sosial 

Sebagian besar responden di Puskesmas Mrican Kediri mempunyai
pengetahuan kurang tentang hubungan seksual selama kehamilan berumur 22-
33 tahun sebanyak 31,6 % (6 responden), berpendidikan SMP dan SMA
sebanyak 31,6% (6 responden), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga 36,8 % (7
responden).




34

5.2 Saran 
5.2.1 Bagi instansi terkait 

Diharapkan instansi terkait (Puskesmas) untuk memberikan penyuluhan
peningkatan pengetahuan ibu tentang hubungan seksual selama kehamilan pada
masyarakat  di Mrican Kediri.
5.2.2 Bagi responden 
Diharapkan para responden mau meningkatkan pengetahuan tentang
pentingnya hubungan seksual selama kehamilan.
5.2.3 Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan data dasar serta gambaran untuk
penelitian lebih lanjut dengan menggunakan instrumen lain yang lebih tepat,
sehingga memberikan hasil maksimal.
35  

Wednesday, July 25, 2012

Tujuan Pembangunan Milenium 2012

Tujuan Pembangunan Milenium (bahasa Inggris : Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. Target ini merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium, dan diadopsi oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000 tersebut. [1] Pemerintah Indonesia turut menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York tersebut dan menandatangani Deklarasi Milenium itu. Deklarasi berisi komitmen negara masing-masing dan komunitas internasional untuk mencapai 8 buah tujuan pembangunan dalam Milenium ini (MDG), sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan. [2] Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 , dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015.

Daftar isi

Tujuan

Deklarasi Millennium PBB yang ditandatangani pada September 2000 menyetujui agar semua negara:

Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan

  • Pendapatan populasi dunia sehari $10000.
  • Menurunkan angka kemiskinan.

Mencapai pendidikan dasar untuk semua

  • Setiap penduduk dunia mendapatkan pendidikan dasar.

Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

  • Target 2005 dan 2015: Mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun 2005 dan untuk semua tingkatan pada tahun 2015.

Menurunkan angka kematian anak

  • Target untuk 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun.

Meningkatkan kesehatan ibu

  • Target untuk 2015 adalah Mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan.

Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya

  • Target untuk 2015 adalah menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit berat lainnya.

Memastikan kelestarian lingkungan hidup

  • Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber daya lingkungan.
  • Pada tahun 2015 mendatang diharapkan mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat.
  • Pada tahun 2020 mendatang diharapkan dapat mencapai pengembangan yang signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh.

Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

  • Mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang berdasarkan aturan, dapat diterka dan tidak ada diskriminasi. Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik, pembangungan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional.
  • Membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara kurang berkembang, dan kebutuhan khusus dari negara-negara terpencil dan kepulauan-kepulauan kecil. Ini termasuk pembebasan-tarif dan -kuota untuk ekspor mereka; meningkatkan pembebasan hutang untuk negara miskin yang berhutang besar; pembatalan hutang bilateral resmi; dan menambah bantuan pembangunan resmi untuk negara yang berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan.
  • Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang negara-negara berkembang.
  • Menghadapi secara komprehensif dengan negara berkembang dengan masalah hutang melalui pertimbangan nasional dan internasional untuk membuat hutang lebih dapat ditanggung dalam jangka panjang.
  • Mengembangkan usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum muda.
  • Dalam kerja sama dengan pihak "pharmaceutical", menyediakan akses obat penting yang terjangkau dalam negara berkembang
  • Dalam kerjasama dengan pihak swasta, membangun adanya penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi.

Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

Setiap negara yang berkomitmen dan menandatangani perjanjian diharapkan membuat laporan MDGs. Pemerintah Indonesia melaksanakannya dibawah koordinasi Bappenas dibantu dengan Kelompok Kerja PBB dan telah menyelesaikan laporan MDG pertamanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan rasa kepemilikan pemerintah Indonesia atas laporan tersebut. Tujuan Tujuan Pembangunan Milenium ini menjabarkan upaya awal pemerintah untuk menginventarisasi situasi pembangunan manusia yang terkait dengan pencapaian tujuan MDGs, mengukur, dan menganalisa kemajuan seiring dengan upaya menjadikan pencapaian-pencapaian ini menjadi kenyataan, sekaligus mengidenifikasi dan meninjau kembali kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan-tujuan ini. Dengan tujuan utama mengurangi jumlah orang dengan pendapatan dibawah upah minimum regional antara tahun 1990 dan 2015, Laporan ini menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam jalur untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, pencapaiannya lintas provinsi tidak seimbang.[2]
Kini MDGs telah menjadi referensi penting pembangunan di Indonesia, mulai dari tahap perencanaan seperti yang tercantum pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) hingga pelaksanaannya. Walaupun mengalamai kendala, namun pemerintah memiliki komitmen untuk mencapai tujuan-tujuan ini dan dibutuhkan kerja keras serta kerjasama dengan seluruh pihak, termasuk masyarakat madani, pihak swasta, dan lembaga donor. Pencapaian MDGs di Indonesia akan dijadikan dasar untuk perjanjian kerjasama dan implementasinya di masa depan. Hal ini termasuk kampanye untuk perjanjian tukar guling hutang untuk negara berkembang sejalan dengan Deklarasi Jakarta mengenai MDGs di daerah Asia dan Pasifik. [3] [4]

Kontroversi

Upaya Pemerintah Indonesia merealisasikan Tujuan Pembangunan Milenium pada tahun 2015 akan sulit karena pada saat yang sama pemerintah juga harus menanggung beban pembayaran utang yang sangat besar. Program-program MDGs seperti pendidikan, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, lingkungan hidup, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan membutuhkan biaya yang cukup besar. Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan, per 31 Agustus 2008, beban pembayaran utang Indonesia terbesar akan terjadi pada tahun 2009-2015 dengan jumlah berkisar dari Rp97,7 triliun (2009) hingga Rp81,54 triliun (2015) rentang waktu yang sama untuk pencapaian MDGs. Jumlah pembayaran utang Indonesia, baru menurun drastis (2016) menjadi Rp66,70 triliun. tanpa upaya negosiasi pengurangan jumlah pembayaran utang Luar Negeri, Indonesia akan gagal mencapai tujuan MDGs.
Menurut Direktur Eksekutif International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Don K Marut Pemerintah Indonesia perlu menggalang solidaritas negara-negara Selatan untuk mendesak negara-negara Utara meningkatkan bantuan pembangunan bukan utang, tanpa syarat dan berkualitas minimal 0,7 persen dan menolak ODA (official development assistance) yang tidak bermanfaat untuk Indonesia [5]. Menanggapi pendapat tentang kemungkinan Indonesia gagal mencapai tujuan MDGs apabila beban mengatasi kemiskinan dan mencapai tujuan pencapaian MDG pada tahun 2015 serta beban pembayaran utang diambil dari APBN pada tahun 2009-2015, Sekretaris Utama Menneg PPN/Kepala Bappenas Syahrial Loetan berpendapat apabila bisa dibuktikan MDGs tidak tercapai di 2015, sebagian utang bisa dikonversi untuk bantu itu. Pada tahun 2010 hingga 2012 pemerintah dapat mengajukan renegosiasi utang. Beberapa negara maju telah berjanji dalam konsesus pembiayaan (monetary consensus) untuk memberikan bantuan. Hasil kesepakatan yang didapat adalah untuk negara maju menyisihkan sekitar 0,7 persen dari GDP mereka untuk membantu negara miskin atau negara yang pencapaiannya masih di bawah. Namun konsensus ini belum dipenuhi banyak negara, hanya sekitar 5-6 negara yang memenuhi sebagian besar ada di Skandinavia atau Belanda yang sudah sampai 0,7 persen. [6]

Thursday, July 19, 2012

MEUGANG TRADISI MASYARAKAT ACEH MENYAMBUT PUASA DAN HARI RAYA

Makmeugang atau Makmuegang atau Meugang adalah salah satu tradisi yang ada dalam masyarakat Aceh yang telah ada sejak berabad yang lalu yaitu acara membeli daging, memasak daging dan menikmatinya bersama-sama baik dengan keluarga bahkan ada yang mengundang anak yatim untuk menikmati kebersamaan hari meugang ini.

Sejumlah warga memadati pusat pasar meugang tradisional Inpres Lhokseumawe, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Selasa (10/8). Perayaaan meugang yang dilakukan tiga kali dalam setahun yakni meugang menghadapi bulan suci Ramadhan, meugang Hari Raya Idul Fitri dan meugang Idul Adha.(*rahmad/ant/z-Matanews)

Tradisi ini dilakukan tiga kali dalam setahun :

1. Menjelang bulan Puasa atau bulan Ramadhan
2. Menjelang Hari Raya Idul Fitri
3. Menjelang Hari Raya Idul Adha



Hari Makmuegang telah ada sejak berabad yang lalu dan biasanya dilakukan sehari sebelum bulan puasa,hari raya idul fitri dan hari raya idul adha, namun di zaman moderen ini bahkan hari makmeugang secara tidak langsung sudah menjadi 2 hari,ada meugang ubit (meugang kecil) pada hari pertama dan meugang rayeuk (meugang besar) pada hari kedua. Namun, tidak semua wilayah atau juga kabupaten di Aceh menerapkan hari meugangnya selama dua hari, ada juga hanya sehari saja.

Yang membedakan meugang kecil dan meugang besar, hanya jumlah daging yang dipasarkan atau dengan kata lain banyaknya penjual yang turun ke pasar. Jika pada hari kedua, yakni meugang besar sudah bisa dipastikan tempat yang dijadikan pasar dadakan akan sangat ramai sekali.

Perputaran ekonomi masyarakat di hari meugang memang sangat luar biasa, banting harga, kualitas daging serta jenis daging juga mempengaruhi para pembeli yang notabennya juga warga setempat.



Hari meugang ini biasanya mulai beroperasi dari pagi hari–setelah shalat shubuh–sampai siang hari sebelum waktu shalat zuhur. Walaupun, ditemukan masih ada yang berjualan sekitar siang kita bisa menghitung pakai jari jumlahnya, karena pengaruh waktu juga akan mempengaruhi harga.

Makmuegang berasal dari kata :
1. Makmue artinya makmur ( Semua elemen masyarakat Aceh pada hari inilah dari segala elemen masyarakat dapat menikmati daging tanpa kecuali , benar-benar satu hari yang benar-benar makmur yang dinikamati dan dirasakan semua masyarakat Aceh baik pejabat maupun rakyat jelata,baik yang kaya maupun yang miskin,Janda miskin maupun anak yatim, bahkan di hari makmuegang ini anak yatim kalau mendapat undangan dari tuan rumah yang ingin berbagi malah mendapat amplop yang berisi uang yang diberikan oleh yang empunya rumah…inilah yang dinamakan makmue…semua elemen masyarakat menikmatinya
2. Gang artinya Gang di dekat Pasar ( Kumpulan para penjual daging yang berjualan di gang-gang pasar,biasanya satu gang ini terapat puluhan bahkan ratusan lapak,tiap lapak para pedagang seluas ukuran meja,di atas meja inilah daging sapi dipajang sementara diatasnya dipajang bamboo tempat gantungan daging masi utuh dengan pahanya)

Tradisi hari makmuegang ini muncul bersamaan dengan penyebaran agam Islam di Aceh sekitar abad ke 14 Masehi, sesuai dengan ajaran Islam, datang hari-hari besar Islam yaitu bulan suci Ramadhan,Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha sebaiknya disambut secara meriah

Jika pada hari-hari biasa masyarakat Aceh terbiasa menikmati makanan dari darat ,sungai maupun laut, maka menyambut hari istimewa hari makmuegang ini masyarakat Aceh merasa daging sapi atau lembulah yang terbaik untuk dihidangkan.

Zaman dahulu, pada hari Meugang, para pembesar kerajaan dan orang-orang kaya membagikan daging sapi kepada fakir miskin. Hal ini merupakan salah satu cara memberikan sedekah dan membagi kenikmatan kepada masyarakat dari kalangan yang tidak mampu. Dan tradisi masih juga dilakuakn oleh sebagian orang-orang kaya sementara orang yang berpenghasilan pas-pasan paling tiding mengundang anak yatim kerumahnya.

Sebuah pepatah Aceh yang tidak dapat dipisahkan di hari makmuegang bahkan sudah berlaku berabad-abad yang lalu cukup tepat untuk menggambarkan betapa hari makmuegang bagi masyarakat Aceh merupakan hari yang sangat penting dan istimewa, di mana kebahagiaan dapat diwujudkan dengan cara menikmati daging secara bersama-samajuga sebagai wujud mensyukuri nikmat rezeki selama setahun itu,

“ SI THOEN TAMITA, SI UROE TA PAJOH ”
Artinya : Setahun kita mencari rezeki/nafkah,sehari kita makan/nikmati

Yang menjadi momok masyarakat untuk meugang seperti yang saya kutip dari Kompasiana memang tidak lain dan tidak bukan adalah masalah harga yang terus melambung tinggi, saat pagi pasar dadakan meugang dibuka harga sejumlah daging bisa melonjak cukup tinggi di atas 100 ribu per kilo.

Namun, tidak semua penjual daging memiliki harga yang sama, disinilah kadang terjadi perang harga antara penjual dalam menarik minat pembeli. Dalam sehari meugang, untuk wilayah tertentu banyak sapi yang dihabiskan bisa mencapai seratus lebih, sangat beda dengan hari-hari biasa yang cuma membutuhkan 3 atau 4 sapi untuk penjualan biasa.

Memang meugang telah menjadi sebuah kebutuhan masyarakat Aceh dalam meneruskan tradisi nenek moyangnya, kebiasaan meugang biasanya akan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat baik mereka keluarga miskin yang tidak sanggup membeli atau juga masyarakat menengah ke atas yang nantinya membagi-bagikan hasil olahan dari daging tersebut untuk dibagi ala kadarnya.

Kembali pada soal harga, jika penjual sudah mulai merasa bahwa yang tinggal lapak untuk berjualan daging hanya tinggal beberapa, terutama saat sudah mulai siang atau akan kelihatan sore. Harga yang ditawarkan akan drastis turun sampai 50 ribu per kilo bisa dilepasnya untuk menghabiskan sisa daging yang dimiliki oleh penjual.

Seperti yang saya kutip dari Bulletin Lamuri Online Perayaan Meugang memiliki beberapa dimensi nilai yang berpulang pada ajaran Islam dan adat istiadat masyarakat Aceh:

1.Nilai Religius
Meugang yang dilaksanakan sebelum puasa merupakan upaya untuk mensyukuri datangnya bulan Ramdhan yang penuh berkah.
Meugang pada Hari Raya Idul Fitri adalah sebentuk perayaan setelah sebulan penuh menyucikan diri pada bulan Ramadhan.
Sementara Meugang menjelang Idul Adha adalah bentuk terima kasih karena masyarakat Aceh dapat melaksanakan Qurban.

2.Nilai Sedekah atau Nilai berbagi sesame
Sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, perayaan Meugang telah menjadi salah satu momen berharga bagi para dermawan dan petinggi istana untuk membagikan sedekah kepada masyarakat fakir miskin. Kebiasaan berbagi daging Meugang ini hingga kini tetap dilakukan oleh para dermawan di Aceh. Tak hanya para dermawan, momen datangnya hari Meugang juga telah dimanfaatkan sebagai ajang kampanye oleh calon-calon wakil rakyat, calon pemimpin daerah, maupun partai-partai di kala menjelang Pemilu. Selain dimanfaatkan oleh para dermawan untuk berbagi rejeki, perayaan Meugang juga menjadi hari yang tepat bagi para pengemis untuk meminta-minta di pasar maupun pusat penjualan daging sapi.

Para pengemis ini meminta sepotong atau beberapa potong daging kepada para pedagang. Ini berkaitan dengan terbangunnya nilai sosial atau kebersamaan.


c. Nilai Kerbersamaan
Tradisi Meugang yang melibatkan sektor pasar, keluarga inti maupun luas, dan sosial menjadikan suasana kantor-kantor pemerintahan, perusahaan-perusahaan swasta, serta lembaga pendidikan biasanya akan sepi sebab para karyawannya lebih memilih berkumpul di rumah. Orang-orang yang merantau pun bakal pulang untuk berkumpul menyantap daging sapi bersama keluarga. Perayaan Meugang menjadi penting karena pada hari itu akan berlangsung pertemuan silaturrahmi di antara saudara yang ada di rumah dan yang baru pulang dari perantauan.

Pentingnya tradisi Meugang, menjadikan perayaan ini seolah telah menjadi kewajiban budaya bagi masyarakat Aceh. Betapa pun mahal harga daging yang harus dibayar, namun masyarakat Aceh tetap akan mengupayakannya (baik dengan cara menabung atau bahkan terpaksa harus berhutang), sebab dengan cara ini masyarakat Aceh dapat merayakan kebersamaan dalam keluarga. Dengan kata lain, melalui tradisi Meugang masyarakat Aceh selalu memupuk rasa persaudaraan di antara keluarga mereka.

d. Menghormati Orang Tua
Tradisi yang telah kita diskusikan di atas tak hanya merepresentasikan kebersamaan dalam keluarga, namun juga menjadi ajang bagi para menantu untuk menaruh hormat kepada mertuanya. Seorang pria, terutama yang baru menikah, secara moril akan dituntut untuk menyediakan beberapa kilogram daging untuk keluarga dan mertuanya. Hal ini sebagai simbol bahwa pria tersebut telah mampu memberi nafkah keluarga serta menghormati mertuanya. Tak hanya para menantu, pada hari Meugang para santri (murid-murid yang belajar agama) pun biasanya akan mendatangi rumah para guru ngaji dan para teungku untuk mengantarkan masakan dari daging sapi sebagai bentuk penghormatan. Begitu pentingnya nilai penghormatan terhadap orang tua telah mengkondisikan tradisi tersebut tidak mungkin untuk ditinggalkan. Jika ditinggalkan hidup menjadi terasa tidak lengkap dan dan muncul perasaan terkucil.
Pelaksanaan tradisi Meugang secara jelas telah menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh mengapresiasi datangnya hari-hari besar Islam. Tradisi ini secara signifikan juga telah mempererat relasi sosial dan kekerabatan di antara warga, sehingga secara faktual masyarakat Aceh pada hari itu disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk memperoleh daging, memasak, dan menikmatinya secara bersama-sama. Selain dampak penguatan ikatan sosial warga di tingkatan gampong dan tempat kerja (kantor), nampak pula dampak signifikan dari tradisi ini di ranah pasar, yaitu aktivitas jual-beli daging yang meningkat tajam.

Selamat hari makmeugang..selamat menikamati hari kebersaman saat memakan daging sapi yang terbaik bersama keluarga dan warga.